Merawat Mimpi - Mengeja Asa

Kisah ini melanjutkan dari alur cerita “Merawat Mimpi Part 1”

Rupanya sudah terlalu lama penulis belum menorehkan karya melalui tulisan, hampir 2 tahun  ini vakum di tahun 2021 blog ini masih kosong tak dibubuhi kisah baru yang bermakna, banyak kisah yang tak terabadikan melalui tulisan dan tak semuanya harus dituangkan cukup dinikmati manis pahitnya dalam kehidupan nyata. Merawat mimpi part 1 ditulis ketika aku sedang semangat –semangatnya merencanakan dan merealisasikan mimpi, target demi target. Satu tahun terakhir diriku dihadapkan dengan banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Kali ini penulis ingin mencoba menuliskan dan mengulik kembali, sembari mengumpulkan keping demi keping ingatan kisah yang telah dilalui untuk menjadi pengingat agar terus semangat memperjuangkan impian. Sedikit prolog dari penulis sebelum melanjutkan kisah merawat mimpi.

Hidup berisikan banyak kisah perjalanan diri mencari apa yang dituju. Kisah ini akan kumulai dari perjalananku selama dibina di asrama Kader Surau. Waktu dua tahun terlewati dengan segala cerita yang berkesan selama tinggal di asrama. Hidup berdua belas tinggal bersama dengan berbagai latar belakang dan kepribadian masing – masing yang melekat. Kekeluargaan, kehangatan, keakraban, bahkan sesekali dibumbuhi konflik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari berasrama. Dimana masa ini menjadi bagian proses pembelajaran dan pembentukan diri Eli dalam menemukan jati diri. Lingkungan yang islami, kegiatan sehari –hari bentuk penanaman nilai – nilai agama, menjadikanku cukup banyak berbenah diri. Namun, ada hal yang mengganjal tentang kemantapan hati menganut beberapa amalan yaumiyah sehari-hari yang dibimbing  dan diajarkan oleh Pembina Asrama. Hal – hal baru yang aku dapatkan, kadang ada beberapa yang berlawanan dari yang disampaikan oleh guru ngaji dahulu. Hal ini mengantarkanku menemukan perjalanan spiritual untuk mencari kemantapan hati menganut manhaj dalam hidup.

Selain perjalan spiritual, dua tahun di asrama mengajarkan banyak hal terutama indikator capaian yang menjadi tugas tambahan sebagai seorang awardee, memacuku untuk berani menuliskan mimpi – mimpi tinggi yang rasional. Kala itu aku memfokuskan diri pada pencapaian dan prestasi akademik. Sehingga kegiatan yang banyak aku ikuti berkaitan dengan lomba, organisasi keilmiahan, project hibah penelitan dan aktivitas akademik lainnya. Berawal dari sinilah mimpi itu mulai kurancang dan mengantarkanku sampai dititik sekarang. Setelah selesai asrama 2 tahun, aku memutuskan untuk mondok di Pesantren Nurul Hikmah dengan niat dan tujuan awal ingin menjaga hafalan dan ziyadah perlahan karena saat di asrma capaian hafalnku belum terpenuhi. Memutuskan mondok di semester 7 termasuk keputusan yang cukup menantang dimana aku harus belajar menata niat, membagi waktu saat itu mulai praktik klinik dan awal skripsi. Meski sekarang belum melanjutkan program tahfidz lagi, semoga Allah memberikan hidayah dan menguatkan tekad diri ini diberi kesempatan menghafal  kalamullah lagi. Hingga pada akhirnya semua terlewati dgn tertarih – tatih. Qodarullah masa Covid memberikan dampak keterlambatan lulus kuliah dgn menambah beberapa bulan di semester 9. Ujian yang cukup menggodok fisik, dan mental, waktu itu sempat positif covid dan menjalani isolasi mandiri di tengah pengambilan data skripsi. Ditambah diri ini yang kurang fokus karena memegang beberapa amanah baik itu pimpinan umum di organisasi, ditambah mengambil beberapa part time menjadi asisten peneliti dosen dan admin dilembaga zakat.

Pernah mengalami masa down, dimana terselip ada perasaan merasa tertinggal menyelimuti hati. Padahal sejatinya setiap manusia mempunyai waktunya masing - masing, sesuai jalan takdir yang Allah gariskan. Di masa penantian menuju profesi ners angkatan ganjil, aku manfaatkan waktu itu untuk bekerja dengan dosenku sebagai asisten peneliti Bu Mei, sekarang beliau telah menjadi guru besar seorang Profesor. Masa profesi pun menjadi ajang penempaan diri, dimana rasa yang menyelimuti hati tadi masih membekas dan ternyata berdampak pada performa menjalani masa profesi dengan semangat tidak penuh. Di masa profesi yang seharusnya menjadi ladang belajar praktik klinis, ada sisi lain dari dini ini, merasa kurang cocok dengan pekerjaan di klinis. Sesungguhnya aku senang berinteraksi dengan pasien, merawat pasien, menjadi perantara proses kesembuhan pasien, tetapi hati kecilku masih memberontak ada hal – hal yang tak bisa aku ungkapkan secara gamblang disini yang menjadi alasanku kurang tertarik di dunia klinis. Hal ini menjadi pendorong dan membulatkan tekadku untuk memantapkan hati mengambil jenjang magister. Meski demikian tanggung jawab profesi harus kuselesaikan, mengikuti ujian kompetensi ners dan alhamdulillah lulus dengan kompeten. Dimasa tunggu wisuda aku mulai berdialog dgn diri sendiri berkontemplasi untuk menentukan keputusan -keputusan hidup paska kampus. Dengan meminta restu orang tua, aku diizinkan untuk melanjutkan sekolah berjuang mencari beasiswa untuk magister.

Masa – masa perjuangan mencari beasiswa dgn persiapan pemberkasan yang bisa dibilang cukup singkat yang kurang begitu matang, dgn pertimbangan pengambilan keputusan yang kadang masih diselimuti sedikit rasa keraguan dengan semua ketidakpastian kedepannya kelak. Berbagai tawaran pekerjaan memecah fokus tujuan utama, tetapi waktu itu akupun membutuhkan modal biaya untuk apply beasiswa, jadi tetap mengambil beberapa perkerjaan. Proses hunting beasiswa dimulai satu bulan sebelum wisuda meski sebelum-sebelumnya sudah punya bekal informasi dan mengikuti berbagai kegiatan mentoring beasiswa. Namun, baru ini yang sungguhan mempersiapkan pemberkasan, aku mulai membidik beasiswa PMDSU, LPDP tahap 2, BPI sebagai plan A, PAS-pasca Undip sebagai plan B untuk mencari LoA awalnya, dan beasiswa unggulan sebagai plan C. TOEFL menjadi syarat tiket utama untuk apply beasiswa LPDP, aku sadar kalau merasa lemah diproses belajar Bahasa Inggris, dengan persiapan yang kurang matang, dan kurang fokus dan belajar secara mandiri membuat hasil skor TOEFL ITP ku masih kurang untuk syarat apply LPDP tahap 2. Persiapan apply beasiswa PMDSU juga belum maksimal karena termasuk telat mendapatkan informasi kalau ternyata jurusan Keperawatan tahun ini perdana buka di UGM hanya ada satu promotor. Setelah mencoba mempersiapkan berkas dan menghubungi promotor ternyata beliau tidak berani memberikan harapan karena telah memberikan dua rekomendasi untuk mahasiswanya, dengan kata lain aku ditolak secara halus. Akupun telah mengikuti tes TPA PLTI, dan masih mengejar skor TOEFL yang masih kurang untuk syarat apply secara paralele PMDSU & UGM. Alhamdulillahnya jawaban promotor keluar tepat sebelum aku membayar tes kesehatan di RS KRMT Wongsonegoro, jadinya aku tidak menagmbil tes kesehatan, tidak perlu kehilangan uang hampir 500 ribu, karena waktu itu tinggal hari itu kesempatan untuk bisa tes karena menjelang penutupan di website beasiswa PMDSU sedangkan email dan pesan whatsappku belum juga dijawab oleh promotor. 

Tak hanya proses pencarian dan persiapan apply beasiswa yang cukup menantang, menguji mental dan masih harus berjuang memenuhi kebutuhan diri di Semarang dengan alasan tidak ingin merepotkan orang tua. Qodarullah diuji lagi hatinya, tekadnya dengan Allah datangkan seorang lelaki yang menyampaikan iktikad baiknya untuk mengajakku taaruf. Sebetulnya lelaki ini bukan orang baru, satu tahun lalu sebelum aku memulai profesi sudah mengutarakan niatnya, tetapi saat itu aku sama-sekali belum siap, belum ada keinginan menikah karena masih harus menempuh profesi satu tahun, kalau mengukur kesiapan diri sendiri dengan amanah tanggung jawaban profesi ners rasanya belum mampu kalau menikah sambil profesi. Oleh karena itu satu tahun yang lalu awal 2022 aku belum bisa melanjutkan proses taarufnya karena belum siap menikah, begitupun orang tua belum meridhoi aku diminta untuk fokus profesi.

Namun kali ini kasusnya berbeda, secara kesiapan memang belum 100%, tetapi dari kejadian sebelumnya yaitu Allah telah hadirkan sinyal-sinyal jodoh, akupun mulai belajar mempersiapkan diri dgn memfokuskan belajar ngaos pranikah lagi, membangun komunikasi dengan orang tua tentang rencana kedepan dan kemungkinan kalau akan datang sinyal jodoh lagi selepas aku profesi asalkan sejalan visi misi dan mendukungku melanjutkan pendidikan, aku dan orang tua tidak menutup diri lagi, meskipun itu bukan keputusan yang mudah. Ketika lelaki satu tahun yang lalu kembali datang menanyakan dan mengajakku taaruf lagi, setelah satu tahun kami tidak pernah komunikasi, akupun mulai mempertimbangkan matang-matang, berkomunikasi dgn orang tua lagi, dengan meminta petunjuk Allah akupun memberi kesempatan untuk melanjutkan taaruf itu dengan tujuan mengenalnya lebih jauh. Lelaki itu datang ke rumahku tepat tiga hari setelah iedul Fitri, menyampaikan iktikad baiknya kepada orang tua, dan kami berbicara banyak hal tentang bab2 krusial sebelum mengenal akhlak dan kepribadiannya lebih jauh. Qodarullah ada banyak hal yang membuatku tidak bisa melanjutkan proses taaruf itu, yang tak perlu kusampaikan disini. Kami pun berhenti bertaaruf dengan baik – baik, dan tidak bisa melanjutkan kejenjang yang lebih jauh. Kejadian ini menjadi pengalaman pertamaku berproses taaruf yang diperantarai langsung oleh orang tua. Hal ini juga yang membuatku lumayan bergejolak hatinya, yang sempat membuatku beberapa waktu tidak bisa fokus melanjutkan baik itu pekerjaan dan persiapan apply beasiswa, perlu waktu, perlu jeda sejenak kala itu. Alhamdulillah lelaki itu sekarang telah menemukan jodohnya, semoga mereka diberikan kebahagiaan sakinah, mawaddah dan rohmah dalam rumah tanganya. Sebetulnya ada kisah lain, dibalik proses yang kulalui sebelum & pasca taaruf itu selesai, tetapi karena belum ada kejelas dan untuk membentengi hatiku agar tak menaruh rasa berlebihan kesiapapun, ditambah hati ini masih bergejolak saat itu, kisah itupun terhenti tanpa adanya kejelasan.

Mari kembali ke topik proses perjuangan melanjutkan studi, dengan pertimbangan yang cukup berisiko akupun mengambil peluang program PAS-pasca Undip dengan rencana awal hanya untuk mencari LoA untuk apply BPI ataupun LPDP tahun depan. Namun, qodarullah timeline beasiswa tahun ini maju semua, termasuk BPI dan Beasiswa Unggulan. Akhirnya peluang untuk mendaftar beasiswa BPI cukup kecil, karena pengumuman dan LoA Undip blm keluar, sedangkan saat itu aku baru yakin mendaftar di Undip saja tidak melanjutkan apply yg di UGM. Untuk mengejar peluang beasiswa BPI waktu itu masih ada UMY & UNAIR untuk berjuang mendapatkan LoA, karena kampus lain pendaftarannya sudah tutup dan pengumuman diterima beserta LoA Undip keluarnya melewati batas waktu pendaftaran BPI. Selain itu aku masih belum yakin jadinya aku tidak jadi daftar beasiswa BPI, melewatkan kesempatan itu, hanya berharap ada perpanjangan waktu pendaftaran kala itu, nyatanya tidak ada lagi. Ya sudah berusaha legowo, memang belum rizkiku. Kesempatan lain dengan plan C yaitu apply beasiswa unggulan, karena timelinenya juga hampir bersamaan dengan BPI proses seleksinya, dan alhamdulillahnya pengumuman PAS-pasca Undip sudah keluar, aku dinyatakan diterima dan sudah punya LoA. Ini kesempatan plan terakhirku untuk mencoba beasiswa, karena kalau hanya dengan jalur PAS aku masih harus mencari  biaya hidup selama masa studi hanya dibebaskan biaya SPI dan masih harus bayar UKT alhamdulillahnya masih terjangkau sama seperti UKT saat SI semester 9, yaitu 1 juta. Kapan lagi kuliah magister keperawatan dengan UKT 1 juta. Saat itu bimbang antara mengajukan defer studi untuk apply beasiswa LPDP, BPI tahun depan atau tetap melanjutkan kuliah disemster ganjil ini dgn risiko blm full funding dan menggunakan plan C tadi. Akhirnya dgn segala pertimbangan diri ini mengambil plan C, dan studi di semester ganjil ini.

Proses seleksi beasiswa unggulan masih berlangsung, dimana aku sudah harus segera registrasi ulang mahasiswa baru di Undip. Rasanya masih campur aduk, antara senang dan khawatir, karena posisi aku masih blm free funding masih penuh ketidakjelasan, akupun masih sempat bekerja di klinik milik dosenku Klinik Olisticio care dari sejak lulus wisuda bulan Mei lalu. Karena aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, untuk lebih fokus mempersiapkan beasiswa akupun izin resign dari klinik dan fokus mempersiapkan berkas beasiswa unggulan, dari mulai tes UKBI, dll. Menjadi mahasiwa baru membayar tes kesehatan, UKT dengan jerih payah sendiri rasanya tak bisa kuungkapkan, meskipun UKTnya termasuk lumayan terjangkau tetapi dengan kondisi keuangan yang masih pas – pasan, rasanya kuliah belum bisa begitu fokus, pikiranku masih bercabang, harus sambil kerja yang bisa disambi kuliah, selagi menunggu proses seleksi beasiswa unggulan selesai. Alhamdulillah Allah hadirkan pertolonganya, saat itu aku juga masih membantu jadi enumerator penelitian disertasi Mba Azka dan Bu Rita, tetapi baru aku kerjakan saat selesai submit pendaftaran beasiswa unggulan. Satu bulan kuliah masih sambil bekerja jadi enumerator ambil data penelitian. Tiba pengumuman seleksi adminstrasi, alhamdulillah aku dinyatakan lolos seleksi administrais beasiswa unggulan dan dijadwalkan untuk seleksi wawancara. Setelah mengikuti wawancara, hari pengumuman beasiswa telah tiba pada akhir September, setelah diundur hampir satu minggu, dengan nothing to lose aku membuka portal website aplikasi pendaftaran beasiswa unggulan, alhamdulillah aku dinyatakan lolos wawancara dan menjadi calon awardee beasiswa unggulan.

Terima kasih kepada Bapak Ibu yang telah memberikan izin serta ridho anakmu yang ini melanjutkan studi, yang senantiasa memberikan dukungan, mendoakan, tempat mengadu, berkeluh kesah ketika bimbang dan menjadi pertimbangan segala pilihan hidup. Aku sangat berterima kasih kepada para senior yang telah membantuku selama proses apply bewasiswa, Mba Fat, Mas Ilham, yang memberikan masukan penulisan CV dan coaching beasiswa PMDSU, Devi Erma, Mba Tia, yang membantuku memberikan tips trik apply pascasarjana di PMDSU UGM, Kencana yang memberiku tumpangan menginap semalam saat tes TPA PLTI di UMKU Kudus, Mas Azwar yg memberikan bantuan latihan mock up wawancara beasiswa unggulan, Mas Asror yang sering mengirimkan informasi peluang beasiswa LPDP, dan banyak beasiswa lainnya tanpa kuminta. Prof. Meidiana dan Bu Dr. Wahyu Hidayati yang bersedia memberikan surat rekomendasi, bahkan berkali - kali aku minta rekomendasi kepada beliau. Bu Niken yang sempat memberikan rekomendasi untuk apply PMDSU di UGM, eskipun tidak jadi daftar. Bu Megah yang memberikan kesempatan Eli untuk bekerja di klinik Olisticio care, dan memberikan pandangan tentang studi lanjut. Ummi, Ibu, dan Babah dipondok yang telah memberikan restunya dan mendoakan ketika aku mengikuti tes & seleksi beasiswa. Murobbiku Mba Hizroh dan juga sahat - sahabat karibku yang terus mendukung dan menyemangatiku di tengah keraguan, kebimbangan dalam mengambil keputusan Mei, Antik, Lisa, & Ulfa, dan teman-teman lainnya mungkin ada yang terlewat belum ku sebutkan. Jazakumullahu katsiran... semoga Allah membalas kebaikan orang -orang yang telah membantuku dalam berproses kemarin dengan sebaik - baiknya balasan, semoga para senior dilancarkan urusannya, dilancarkan studinya.

Terkadang manusia masih ada saja rasa kurang bersyukurnya, masih ada setitik penyakit hati kadang ada rasa keinginan untuk mendapatkan yang lebih. Butuh waktu dalam proses penerimaan ini, rasa syukur yang harus terus dipupuk meskipun tidak seperti beasiswa yang pertama ditargetkan, LPDP ataupun BPI karena rizkinya memang di beasiswa unggulan, kemampuannya dan kesabarannya masih di tahap cukup dengan beasiswa ini. Setelah mencoba memaknai semua peristiwa dalam hidup yang sudah dilewati, dari fase proses penerimaan memilih mondok (meskipun sampai sekarang masih struggle untuk terus istiqomah), proses penerimaan hikmah dibalik lulus tidak tepat waktu lewat 1 bulan, masa tunggu itu digunakan untuk menambah ilmu dan pengalaman dengan menjadi asisten dosen, masa profesi meskipun di Angkatan ganjil jadinya bisa ikut program PAS-pasca Undip. Qodarullah Allah uji tekadnya untuk melanjutkan studi dengan didatanggakan ikhwan yang belum sevisi misi, dan rizkinya ternyata di beasiswa unggulan, Setiap perjalanan takdir yang telah Allah gariskan, terkadang kita baru bisa memahami setelah melewati berbagai ujian dalam takdir itu, baru bisa kita bisa mengambil hikmah. Sekarang, kedepannya, wallahu’alam perjalanan garis takdir seperti apa yang akan Allah hadirkan. Kadang sekarang terbesit aku ingin ini, ingin itu, tetapi Allah lebih tahu, mana yang terbaik untuk hambaNya, yang menjadi kebutuhan hambaNya, bukan hanya sekedar keinginan tetapi sebetulnya kita tidak/belum begitu butuh. Tugasku, tugas kita, terus melangitkan doa yang terbaik untuk hal-hal baik yang menjadi hajat keinginan kita, entah mana dulu nanti yang Allah kabulkan, atau digantikan doanya dgn yang kita perlukan, perlu dasar keimanan, ikhtiar semakismal yang dimampu tanpa melaanggar syariat, dan bertawakal setiap hasil keputusan yang Allah beri.


Di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Hikmah

Semarang, 18 November 2023





Comments

Popular posts from this blog

Sharing Experience-1 "I chose study nursing"

Merawat Mimpi