Merawat Mimpi
MERAWAT MIMPI
Bebicara tentang mimpi, sama
halnya berbicara tentang harapan. Menjadi sang pemimpi merupakan sebuah
anugerah. Bagaimana tidak? Sekadar untuk bermimpi kita tak perlu bayar, mimpi
itu gratis, lalu untuk apa takut bermimpi? Yang sulit itu merawat mimpi.
Merawat dan mengusahakan mimpi-mimpi itu untuk mencapainya. Sama halnya
dengan aku "Sang Pemimpi". Anak desa yang punya tekad kuat dengan segudang mimpi.
Eli panggilan akrab oleh
teman-teman sekolahku. Dilingkungan keluarga dan teman mainku aku lebih
dikenal dengan nama Erma. Kalau berkunjung ke desaku, pakai nama Erma saat
mencariku, karena orang di desaku lebih mengenalku dengan panggilan itu. Kalau suatu hari nanti kamu pergi menumpangi bus yang
melintasi jalur pantura Semarang-Surabaya dan melintasi kota kecil nan indah,
Kabupaten Pati namanya, turunlah dan mampirlah. Akan aku tunjukkan banyak hal
tentang kota ini. Aku tinggal di salah satu kecamatan yang terletak di ujung
selatan dari kabupaten ini. Kecamatan Jakenan, lebih tepatnya tinggal di Desa
Sidomulyo. Desa kecil yang masih kental dengan adat jawa. Di daerah inilah aku
tumbuh menjadi gadis kecil yang memiliki segudang mimpi untuk menjelajah antero negeri.Terlahir
dari keluarga yang sederhana, tak lantas membuatku tak memiliki harapan
apa-apa. Namun ditengah kesederhanaan ada
secerca harapan dan tekad kuat orang tuaku. Meski tidak berasal dari kalangan
berpendidikan tinggi, tapi orang tuaku bertekad ingin anak-anaknya kelak bisa
mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Layaknya doa dan harapan orang tua,
tekad itulah yang menjadi pelecut semangat bagiku.
Semasa kecil aku layaknya
anak pada umunya, suka bermain, sekolah, dan mengaji. Erma kecil terkenal cengeng,
sampai dapat julukan Jentirr yang artinya kalau nangis keras sekali. Erma
kecil lebih dekat dengan neneknya. Dipelopori beberapa warga yang merantau
menjadi TKW, menjadikan momok tersendiri bagi penduduk di desaku. Seolah silih
berganti beberapa Ibu rumah tangga terpancing ingin merantau keluar negeri. Ibuku
menjadi salah satu diantaranya. Saat TK Erma
kecil ditinggal Ibunya merantau ke Timur Tengah di Arab Saudi. Erma kecil
tak begitu tahu menahu alasan orang tua kala itu. Saat ditinggal Erma kecil hanya bisa menangis, mungkin himpitan ekonomi yang menjadi alasan utama. Sedangkan
Bapak bekerja menjadi buruh tani, menggarap sawah orang, diupah dengan sistem
bagi hasil panen. Ibu pulang dari perantauan saat aku kelas 2 SD, tak ada yang
berbeda jauh sepulang Ibu merantau. Ibu kembali menjadi Ibu rumah tangga, dan
bertani. Kata nenek uang Ibu abis dipakai berobat bapak di BP4. Bapak
terserang penyakit paru-paru saat aku SD, akupun masih belum paham saat itu.
Hanya saja, masih ada sepetak kecil sawah. Terlahir di tengah keluarga
sederhana, menjadi anak dari seorang petani membuatku terbiasa hidup dengan
kesederhanaan.
Bapak berteman akrab dengan
palu, gergaji dan kayu-kayu. Berbekal keahlian yang didapat dari belajar
autodidak dengan tetangga, tangannya terampil merombak kayu menjadi berbagai
furniture rumah tangga. Selain bertani, Bapak juga seorang tukang kayu,
pekerjaan yang sempat digeluti Bapak hampir 15 tahun. Berawal dari tukang kayu
rumahan, yang bekerja hanya saat dapat panggilan saja, ketika ada tetangga yang
membutuhkan jasa Bapak. Ada tetangga yang minta untuk dibuatkan pintu, atau
kerangka bangunan rumah kayu ataupun dari bambu. Bapak seorang pekerja keras,
tak hanya satu pekerjaan beliau geluti, berbagai pekerjaan serabutan juga beliau kerjakan. Bahkan Bapak pernah berjualan rujak keliling saat aku SD.
Bapak bekerja diperusahaan
kayu yang baru saja dirintis milik saudara dan bapak dipekerjaan menjadi tukang
disana, digaji untuk membuat furniture dari kayu. Hingga relasi bapak
bertambah, saat aku kelas 5 SD Bapak pindah kerja diperusahaan kayu yang
lumayan besar di UD Sidomulyo Juwana, menjadi salah satu pekerja membuat
berbagai furniture dari kayu, membuat gazebo, sampai
kirim pesanan gazebo keluar kota bahkan ke luar pulau juga. Semenjak Bapak
bekerja di perusahaan kayu itulah perekonomian keluargaku mulai membaik.
Orang tuaku, utamanya Bapak
mendidikku dengan tegas. Bahkan saat mendapat peringkat delapan di kelas satu
SD, aku dikunci di kamar oleh Bapak, sepulang dari mengambil rapor. Pernah
sesekali saat Erma kecil nakal, Bapak memotek tangkai tanaman petai cina dan
dikibaskanlah kepantatku. Aku menangis sekencang-kencangnya hingga terisak-isak
sambil merenungkan perlakuan Bapak terhadapku. Memang begitu cara Bapak
mendidikku, aku tidak menyalahkannya karena setiap orang tua punya cara
tersendiri untuk mendidik anaknya. Hal seperti itu sudah biasa di desaku, saat itu belum terpapar maraknya informasi parenting seperti sekarang. Tapi dengan tempaan
dan cara Bapak mendidiku itu, aku terpacu untuk belajar lebih rajin lagi
sampai akhirnya mendapat peringkat tiga besar di kelas. Pernah pula sekali
peringkat satu saat kelas enam SD. Bapak sangat mendukung pendidikanku, saking
ingin anaknya menjadi juara kelas, Bapak rela menyisihkan uangnya untuk
membelikan buku untukku, meskipun kadang hanya buku bekas tapi itu sangat berharga
bagiku.
Kegiatan sehari-hariku, di
pagi hari sekolah dasar, sorenya mengaji di taman pendidikan qur'an. Di TPQ Sirojul Ulwiyah, di dukuh
Pojok, masih satu desa. Karena berbeda dukuh, aku menjadi punya banyak teman, ada teman SD dan teman mengaji. Guru mengaji yang paling ku ingat jasanya, guru yang tiap sore sepulang mengaji aku datangi ke rumahnya untuk nderes qiroati dan qur'an, Bu Iis namanya. Karena rajin
nderes ke guru mengaji lain sepulang TPQ seolah mengajiku ada akselerasi meloncati
satu kelas, jadi bisa khataman dan lulus lebih cepat. Awal kelas lima aku sudah
khatam TPQ dan melanjutkan mengaji Diniyah, disini belajar mengaji kitab fiqih, shorof, nahwu,
bahasa arab, kitab kuning dan lainnya. Lulus mengaji diiniyah bersamaan dengan
lulus sekolah dasar. Lulus SD dengan nilai tiga besar di sekolah mengantarkanku
mendaftar ke sekolah favorit di kecamatan yaitu SMP N 1 Jakenan.
Persaingan akademik di SMP ini cukup
ketat, banyak anak yang lebih pintar. Akupun terpisah dari sahabat SDku, karena
diterima di SMP beda kecamatan. Saat SD aku tak cukup berprestasi, hanya pernah
ikut LCC tingkat kecamatan itupun tidak menang. Di SMP aku bertemu teman-teman baru,
bahkan sampai sekarang menjadi sahabat karibku. Saat masa orientasi siswa,
semua siswa mengikuti alur seleksi, ada tes lari, lompat jauh, lempar cakram,
dan sebagainya, aku belum paham tes itu untuk apa, hanya mengikuti semua
prosesnya saja. Ternyata seleksi itu untuk menjaring anak- anak kelas olahraga dan akupun menjadi
salah satu yang diterima. Saat diumumkan dikelas, aku kaget "Haa, masa
iya aku diterima. Aku bisa apa? Perasaan pas seleksi aku cuma bisa bagian lari,
itu aja bareng tamen lainnya", ucapku
ke teman sebangku dengan terheran. Kelas ini isinya siswa-siswi kader atlet
yang ditempa dan dipersiapkan untuk mengikuti perlombaan pekan olahraga daerah
Kabupaten Pati.
SMP ku memang bagus disistem
olahraga ini, selain dikenal dengan sekolah adiwiyata, kelas olahraga juga jadi
salah satu keunggulannya. Selain kegiatan akademik hari-hariku disibukkan
latihan fisik seminggu tiga kali tiap sore sepulang sekolah di lapangan
sekolah. Ada yang latihan atletik lari, sepak takrau, bola voli, lompat jauh
dan beragam latihan olahraga lainnya sesuai minat bakat
masing-masing anak. Jarak SMP dari rumahku sekitar 5 km, tiap pagi aku bersepeda ontel sendirian melewati jalan besar, kadang aku janjian sepedaan bersama temanku dari desa sebelah atau kadang juga naik sepeda sambil didorong Bapak
pakai motor dibelakang saat Bapak berangkat kerja. Kadang juga aku naik bus,
tapi kalau aku naik bus uang sakuku 5 ribu akanterpakai 2 ribu untuk ongkos
pulang pergi, jadi aku memilih naik sepeda, sisanya bisaku tabung. Sejak kelas
satu SMP Ibuku sering membuatkanku bekal, tiap aku pulang sampai sore, apalagi
saat aku harus latihan lari, bekal nasi dan air minum pasti ditambah lebih
banyak.
Lelah? Sudah pasti. Mengeluh?
Pernah, tapi aku menjalaninya dengan senang hati, penuh semangat dan tekun. Aku senang meskipun
harus berpeluh keringat, dan berpanas-panasan dilapangan. Bahkan saat puasa pun aku harus tetap latihan. Bayangkan, betapa hausnya menahan dahaga di sore hari
menjelang berbuka puasa, setelah berlelah-lelah lari keliling lapangan, masih harus mengayuh sepeda saat pulang. Meskipun begitu aku menjalaninya dengan senang hati. Bapak
sangatlah mendukungku, meskipun saat itu aku belum menuai hasilnya. Sepulang dari bekerja Bapak pernah beberapa kali menungguku sampai selesai latihan, karena saat itu bulan puasa.
Bapak tak tega anaknya mengayuh sepeda sepulang latihan lari, jadi pulang
pergi sekolah bersama Bapak.
Usaha tidak akan mengkhianati
hasil, proses latihan yang berkelanjutan, dan berkat bimbingan dari Pak Bagiyo
guru pelatih atletik, aku berkesempatan
beberapa kali mengikuti perlombaan atletik lari 1500 m putri mewakili sekolahku di
kabupaten Pati. Alhamdulillah pernah beberapa kali menang, lalu melanjutkan mewakili Kabupaten Pati
ke tingkat provinsi dan pernah mendapat juara. Tapi, saat awal-awal mencoba perlombaan juga
pernah berkali-kali kalah, menang kalah sudah menjadi hal biasa dipertandingan.
Kata Pak Bagiyo yang paling aku ingat sampai sekarang, "Kita tidak apa-apa kalah,
menang kalah itu biasa, tapi jangan sampai kita punya mental kalah, mental kita
tetap sang juara. Berjuanglah sampai garis finish.'' Berkat mengikuti
perlombaan lari ini, aku mulai menjelajahi stadion di beberapa kota di Jawa
Tengah, mulai dari Purwodadi, Salatiga dan Semarang. Senang rasanya pernah
berkecimpung di dunia atletik, mengikuti pelatihan olahraga di tingkat Provinsi
bertemu atlet-atlet se Jawa Tengah, mendapat uang saku, relasi, dan tenutnya mendapat pengalaman
yang tak terlupakan.
Pernah terbesit angan, aku
ingin dipanggil mendapat penghargaan sebagai siswa berprestasi mendapatkan juara paralel di
sekolah. Tapi aku sadar, keinginan itu cukup sulit bagiku, aku tak cukup pandai di sekolah, banyak anak lain yang lebih
pintar dan berprestasi, banyak yang menjuarai berbagai perlombaan akademik seperti olimpiade sains.
Untuk mendapatkan juara tiga besar di kelas saja sudah perjuangan luar biasa bagiku.
Menyeimbangkan kegiatan akademik dan nonakademik berlatih lari lumayan
menguras pikiran dan tenagaku. Hal yang paling membanggakan ketika namaku
dipanggil saat upacara bendera hari Senin, diberi penghargaan oleh kepala
sekolah di depan ratusan siswa SMP bersama teman berprestasi lainnya. Saat itu
aku ingin teriak yang kencang, “Pak... Buk... Alhamdulillah anakmu dapat
penghargaan dari kepala sekolah”. Tapi ternyata Allah mengabulkan doaku
lebih dari harapanku, sampai pernah di undang sebagai penerima penghargaan oleh
Pak Camat sebagai atlet berprestasi karena menang diajang provinsi dan menang
lomba lari 5k putri tingkat kecamatan dalam rangka tujuhbelasan. Bersama atlet
lainnya, aku duduk diantara tamu undangan, namaku disebut dihadapan ribuan
orang. MasyaAllah... maha baik Allah, Hingga aku pernah dapat julukan “cah cilik, rambute dowu, mlayune
banter” Ya sedih kalau mengingat ternyata aku belum berhijab waktu
itu, sudah belajar agama tapi belum aku aplikasikan.
Biaya sekolah yang kian
melangit, saat SMP ada biaya uang gedung, dan SPP bulanan. Mendapat penghargaan
menjadi kegembiraan tersendiri bagiku, setidaknya aku bisa membantu meringankan
beban orang tuaku untuk membayar uang sekolahku. Aku tergolong siswa yang tidak bisa diam,
selain tergabung dikelas olahraga akupun ikut ekstrakuikuler tari jawa dan juga pramuka menjadi
regu inti. Aku suka berinteraksi dengan banyak orang, di pramuka aku berlatih
kedisiplinan, berlatih berani berbicara di depan umum. Yang paling aku suka dari kegiatan
pramuka saat berkemah dan menginap di tempat perkemahan. Akupun berkesempatan
mengikuti perlombaan kemah se-kecamatan mendapat juara 3 regu terbaik. Saat
lomba kemah ada hal tak terlupakan, saat aku diamanti menjadi pembaca UUD 1945
tanpa membawa naskah saat upacara pembukaan perkemahan di depan Pak Camat dan
seluruh peserta kemah. Dibenakku waktu itu cuma satu, jangan sampai lupa,
jangan lupa sudah itu saja,
Masa SMP berakhir dengan
lancar dan menegangkan, sempat ada persaingan akademik dikelas sembilan. Kelas
sembilan murid diacak dan bertemulah sekelas dengan para siswa kelas
unggulan. Untuk mempertahankan peringkat
kelas perlu belajar yang ekstra. Berbeda dengan kelas delapan aku berada
dalam kelas olahraga, dimana dari dulu kelas olahraga dicap dan identik dengan
siswanya yang nakal-nakal dan kurang begitu pintar. Hal ini justru menjadi
peluang bagiku, karena persaingan akademik dikelas tidak begitu sengit. Semua
siswa belajar mempersiapkan ujian nasional, termasuk aku. Akupun meninggalkan
sejenak dunia atletik dan demisioner dari regu inti untuk fokus belajar
UN.
Impianku ingin mendapat niali UN sepuluh besar disekolah,
ingin orang tuaku dipanggil saat wisuda. Impiaku belum terwujud, nilai UNku tak
begitu tinggi, tapi masih cukup untuk mendaftar di SMA favorite di
kabupaten. Impianku untuk melanjutkan ke SMA N 1 Pati harus ku urungkan,
karena mempertimbangkan biaya dan jarak. Orang tua lebih menyarankan ke SMA
terdekat saja. Aku mealnjutkan ke SMAN 1 Jakenan, jurusan IPA. Aku bertemu
teman-teman lamaku disini karena banyak yang diterima di SMA ini. Sekarang biaya
SMA kian melangit, untuk pendaftaran sekolahpun Bapak harus meminjam uang ke
tetangga, bahkan nenekku ikut membantu dengan menjual tabungan kalung emasnya,
karena uang keluarga kami pas-pasan, ditambah aku punya adik kecil yang baru
saja lahir saat aku kelas dua SMP.
Perjuangan belum berakhir,
imipian tekad orang tua untuk menyekolahkanku sangatlah besar. Aku tak boleh
mengkhianati kepercayaan orang tua, yang sudah mengusahakan mencari biaya
untuk sekolahku. Akupun bertekad tak ingin menjadi siswa yang biasa saja, aku
harus bisa lebih baik menurut versiku sendiri. Masa orientasi siswa dimulai,
awal masuk SMA disibukkan dengan pengenalan sekolah. Aku masih meraba-raba
peluang dan kesempatan apa yang bisaku perjuangkan dan mengambil peran di SMA
ini. Mulailah waktu itu aku kenal OSN (olimpiade sains nasional) yang
disampaikan kakak kelas dan guru-guru. Di SMA ini cukup berbeda dengan SMPku
dulu karena aku tidak fokus ke atletik lagi, di SMA wadah untuk atletik kurang,
jadi aku banting stir fokus ke akademik. Aku ikut seleksi peserta OSN Biologi
alhamdulillah aku lolos, menjadi tim inti OSN Biologi di SMA. Seorang Eli jadi
orang yang kutu buku, tiap hari belajar, sukanya main keperpus. Perpustakaan
menjadi tempat mainku tiap harinya, menjelajahi buku-buku akademik khususnya
Biologi aku lebih suka buku pelajaran di bandingkan buku fiksi ataupun novel.
Sudah kubilang kalau Eli orangnya tidak bisa diam. Aku harus mengambil peran
apa lagi? Kegiatan apa lagi yang bisa ku ikuti di SMA ini? Akupun ikut mendaftar
pengurus OSIS, ROHIS, dan Dewan Ambalan Pramuka.
Kejadian musibah hebat
terjadi saat aku ujian tengah semester kelas sepuluh, aku mendengar kabar Bapak
kecelakaan ditabrak truk saat perjalanan sepulang dari bekerja. Sontak aku kaget, tertegun menangis lari menuju Ibu,
Ibuku pun menangis mendengar kabar itu. Doaku
tiada henti-hentinya sambil menenangkan diri. Esoknya aku tidak ikut ujian
tengah semester karena harus menemani Bapak yang sedang dirawat di rumah sakit. Keadaan
Bapak cukup parah, sampai mengalami patah tulang dikaki dan harus di operasi. “Ya Allah musibah apa ini. Uang
dari mana untuk biaya operasi Bapak.”,gumamku. Akhirnya Ibupun
kesana-kemari mencari pinjaman uang, waktu itu kami belum punya asuransi
kesehatan. Saat proses perawatan, terjadi hal yang tidak menyenangkan dari
pihak tenaga kesehatan, sudah dua hari Bapak dirawat tapi belum dilakukan
tindakan lebih lanjut, akhirnya aku minta tolong ke Bu Lurah desaku, untuk membantu
memindahkan perawatan dari RSUD ke RS lain yang lebih bagus perawatannya. RS
kedua pun langsung dengan tanggap memeriksa dan merontgen, pihak RS bilang
tidak mampu menangani. Keluarga semakin khawatir, apalagi aku. Akhirnya Bapak
di rujuk ke RS Kustati yang khusus spesialis tulang. Aku ikut mengantarkan
Bapak dari Pati menuju Solo naik ambulan, aku melihat betul Bapak merintih
kesakitan, apalagi saat mobil ambulan tidak stabil dan ada goncangan, aku
sampai tak tega melihat keadaan Bapak.
Sampai di RS Kustati Bapak
langsung ditangani dan esoknya dilakukan tindakan operasi. Selama dirawat aku
dan Bu Lekku yang menunggui Bapak, karena Ibuku menjaga adekku yang masih
kecil, rewel tidak bisa ditinggal. Saat Bapak diruang operasi aku hanya bisa
mondar mandir mencari ruang sholat untuk menenagkan diri dan berdoa
sebanyak-banyaknya. Tiada tempat berharap lagi selain kepada Allah. Ditengah
peristiwa ini, muncullah impian baruku, aku ingin menjadi seorang tenaga medis,
entah itu dokter atau perawat, aku ingin menolong orang sakit. Hal inilah yang
melatarbelakangiku kuliah di jurusan keperawatan. Saat itu pula, keadaan
ekonomi keluargaku berantakan. Hutang dimana-mana, untuk membiayai pengobatan
Bapak. Beberapa minggu berlalu, aku masih diliputi kesedihan tapi aku harus
bangkit, dengan bersedih tidak akan menyelesakan masalah. Aku harus kembali
fokus belajar dan menata mimpi. Meskipun sempat terbayang pikiran bagaimana
nanti sekolahku, siapa yang akan membiayai sekolahku, apa aku bisa melanjurkan
ke perguruan tinggi, masih duduk dibangku kelas sepuluh aku sudah punya impian
ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Disini Allah menguji keluargaku, menguji
kesabaran Ibu untuk mearawat Bapak ditengah himpitan ekonomi.
Aku menjadi anak yang sedikit
bisa berpikir lebih dewasa, bukan saatnya main-main lagi. Semenjak peristiwa itu, aku mulai
memikirkan bagaimana cara untuk menghasilkan uang untuk membantu orang tuaku.
Kadang saat libur semester aku bekerja membantu menjahit baju di rumah
tetangga. Aku mulai merencanakan mimpi kedepannya, mencari cara agar tetap bisa
sekolah dan melanjutkan kuliah kelak. Setiap ada niat dan tekad kuat, diiringi
ikhtiar dan do'a, pasti Allah akan tunjukkan jalan-Nya. Kita hanya bisa
merencanakan dan bermimpi entah nanti bagaimana jalan keputusannya, hanya Allah
yang maha menentukan. Akupun fokus ke akademik, belajar lebih rajin, karena saat itu hanya dengan belajar giatlah yang bisa kulakukan. Hingga akhirnya harapanku waktu SMP
kala itu Allah kabulkan, aku mendapat paralel dua disekolah. Aku kaget sekali,
tidak menyangka saat diumumkan di upacara di sekolah. Aku mendapat penghargaan
dari kepala sekolah, dan mendapat uang pembinaan. Alhamdulillah aku bisa pakai
uang itu ntuk membayar SPP untuk beberapa bulan. Saat itu aku sempat bingung,
dan bercerita ke guru konseling. Bu Kustini sangat mengerti keadaanku,
alhamdulillah guru BK mendaftarkanku beasiswa, akupun mendapatkan beasiswa dari
pemerintah bantuan biaya sekolah tiap tahunnya selama SMA. Sepulang sekolah aku
ceritakan semua ke orang tuaku, mereka bangga dan terharu mendengar ceritaku. “Pak.. Buk.. anakmu bakal njunjung
derajate jenengan Pak Bu.. dongaake terus nggih”. Ya Allah setiap kesulitan engkau
hadirkan kemudahan. Tiada mungkin egkau menguji makhluk diluar batas
kemampuannya.
Hal tak ku duga terjadi, Ibu
memutuskan merantau lagi ke luar negeri. Sudah dipikirkan matang-matang oleh
Ibu dan Bapak. Sedih sekali mendengar keputusan Ibu seperti itu, tapi mau
bagaimanapun aku tidak bisa melarangnya. Ibu bilang harus menulasi
hutang-hutang yang menumpuk, semenjak Bapak sakit dan tidak bekerja. Biaya
hidup semakin banyak, belum biaya sekolahku. Ditengah bulan puasa Ibuku
berangkat mearantau ke luar negeri, lebaran tahun itu tidak lengkap bersama Ibu.
Adik harus mengalami kejadian yang sama sepertiku dulu, adikku masih sangat
kecil, ditinggal merantau di usia empat tahun merasakan kurangnya kasih sayang
dari seorang Ibu. Lagi-lagi aku tak boleh berlarut dalam kesedihan, aku harus
berjuang dan menunjukkan kepada orang tuaku kalau aku bisa dan jangan sampai mengecewakan
mereka.
Berbulan-bulan berlalu tanpa
Ibu, tapi kami masih menjalin komunikasi lewat telepon. Tiga tahun di SMA penuh
lika-liku, susah dan senang. Aku menjalani masa putih abu-abu dengan penuh
semangat dan perjuangan, aku bersyukur waktuku tak ku buang sia-sia dengan masa
SMA yang identik dengan kisah percintaan disekolah. Aku sama dengan teman yang
lain, tumbuh dimasa-masa pubertas, wajar pernah juga ada rasa menyukai lawan
jenis. Tetapi mimpiku saat itu mampu mengalahkan rasaku. Aku punya cara unik
untuk mengalihkan rasaku, lucu juga kalau ingat, mungkin dengan aku menjadi Eli
yang pintar dan dipanggil saat upacara, orang yang kusuka akan ingat namaku..
Ehehe. Kisah persahabatanku juga terbilang manis di SMA, sahabatku Hesti,
Anita, Risya tahu betul keadaanku saat itu, susah-senang kisah keluargakupun
mereka ikut tahu.
Alhamdulillah sejak awal SMA
aku mulai berhijab. Berawal dari ikut ROHIS, membawaku untuk benar-benar
menjauhi yang namanya pacaran, meski pernah di dekati temaku tapi tekadku masih
sekuat mimpiku. Diamanahi jadi sekretaris ROHIS, alhamdulillah aku dan temanku
berkesempatan ditunjuk menjadi delegasi kemah ROHIS Nasional di Cibubur,
pengalaman yang sangat tak terlupakan, bertemu dengan siswa ROHIS dari begbagai
daerah di Indonesia dari sabang hingga merauke. Saat kelas sebelaspun aku
berkesempatan mengikuti lomba debat ekonomi di Universitas Semarang dan lomba
debat Bahasa Indonesia tingkat kabupaten. Olimpiade Biologi belum membawa
kemenangan, tetapi aku tetap suka dengan pelajaran Biologi, meskipun belum
membuahkan kemenangan.
Kelas dua belas aku mulai
fokus untuk mempersiapkan ujian nasional dan mencari informasi tentang
perguruan tinggi negeri, serta informasi beasiswa bidikmisi. Alhamdulillah, aku
bersyukur bisa menjadi salah satu pendaftar melalui jalur rapor/SNMPTN. Saat
itu aku bingung ingin mendaftar ke PTN mana, aku konsultasi dengan guru BK dan
tanya-tanya kakak kelas yang pernah lolos SNMPTN, minta pendapat orang tua
juga. Aku sholat malam dan minta petunjuk sama Allah, akhirnya aku memutuskan
mendafatar di Ilmu Keperawatan Undip dipilhan pertamaku. Kelulusan SMA
menjadi momen yang mengharukan dan membanggakan karena namaku dipanggil untuk
mendapat penghargaan tiga besar nilai UN dikelas. Semenjak kenal dengan Pak
Aris guru agamaku sekaligus guru yang mempercayaiku unutk menjadi delegasi
kemah ROHIS aku jadi ingin serius belajar agama, aku juga sempat diamani oleh beliau
menjadi koordinator ekstra BTQ di kelas sebelas. Pak Aris selalu rajin sholat
dhuha di mushola sekolah, ini yang menjadi teladan siswanya, salah satunya aku
juga terinspirasi dari beliau. Semenjak
kelas sepuluh aku dan beberapa temanku dikelas rajin sholat dhuha bareng ke
mushola sekolah . Diantaranya ada dua teman cowok dikelasku yang paling rajin
sholat dhuha, sempat membuatku kagum akan kesholehannya. Astaghfirullah... Eli
cukup. ehehe.
Setelah kelulusan kebanyakan
teman-teman ikut bimbel persiapan SBMPTN, tapi karena keterbatasan biaya aku
memilih belajar mandiri bersama teman-teman. Akupun mencoba mendaftar sekolah
kedinasan dan sudah mengikuti alur seleksinya, tapi Allah berencana lain aku
tidak lolos diseleksi tahap selanjutnya. Padahal saat tes seleksi itu pertama
kali aku bepergian sama teman-teman ke Semarang tanpa ditemani orang tua,
hanya berbekal informasi dari kakak kelas dan numpang di kosan kakak
kelas.
Hari yang ditunggu-tunggu pengumuman SNMPTN telah
tiba, aku sudah mempersiapkan membuka webnya sampai mencari signal di sawah,
soalnya dirumahku susah signal. Setiap hari berdo’a, minta di doain orang tua
semoga diberi hasil yang terbaik. Alhamdulillah aku ketrima di Ilmu Keperawatan
Undip. Aku langsung sujud syukur, aku sampaikan ke oang tua sambil nangis. Aku
menghampiri bapak yang lagi dikebun, saat itu Bapak sedang memberi makan lele
di kolam. Bapak sedang merintis usaha ternak lele. Aku lari sambil menangis
sepanjang jalan, sambil teriak. “Pak,
Pak... alhamdulillah aku ketrima di Undip”. Bapakpun kaget mendengar
teriakanku, meninggalkan pakan lelenya dan langsung menghampiriku, Bapak ikut
nangis terharu bahagia, alhamdulillah ya Allah... alhamdulillah.
“Pak, Buk,.. ini awal
perjuangan anakmu baru dimuali ditempat perantauan, mencari ilmu untuk bekal
masa depan kelak, minta do’a restunya nggih Pak, Buk.”, kata yang ku ucapkan
keorang tuaku.
Selama menunggu waktu verifikasi,
aku bekerja menjahit di rumah tetanggaku, mengumpulkan uang untuk keperluan
ongkos daftar ulang nanti. Selain itu aku juga mulai cari info beasiswa yang
bisa didaftari di Undip selain bidikmisi. Aku mencoba mendaftar beasiswa Etos
kala itu, tapi belum lolos. Tibalah hari verifikasi daftar ulang ke Undip, aku
bersama teman-temanku yang lolos SNMPTN di Undip berangkat bareng naik bus,
kami menginap di kosan Mbak Ina kakak kelasku, ia juga tetanggaku. Aku
benar-benar belajar mandiri disini, pertamakali menginjakkan kaki di tanah
Tembalang membuatku terpukau dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Akupun
berkeliling Undip bersama sahabatku, Hesti dia diterima di jurusan Fisika Undip
juga. Akupun berencana satu kos sama Hesti. Rasa syukur ini semakin bertambah
kala melihat gedung yang kelak akan menajdi tempatku menimba ilmu 4 tahun
kedepan. Saat dibagikan atribut dari Undip, sesampainya dirumah kucoba jas
almet itu.
Aku masih saja berdiam diri
di depan cermin. Tersenyum dan terus tersenyum. Begitu bangga mengenakan jas
almaamter Undip yang dulu ku impikan sejak SMA. Tapi aku tidak berlarut
berbangga diri, aku masih harus berjuang sambil menunggu pengumuman beasiswa
aku mencari informasi beasiswa lainnya yang bisa didaftari di Undip. Tahun
ajaran baru dimulai, tiga hari sebelumnya aku berangkat ke Semarang diantar
oleh Bapak dan adik bersama rombongan keluarga temanku juga. Persiapan yang
cukup ribet, untuk orang yang baru pertamakalinya ngekos.
Langit semarang dihiasi
banyak awan putih nan cerah, mentari pun keluar dari peraduannya. Awal-awal
perkuliahan aku disibukkan dengan masa orientasi mahasiswa baru yang dikenal
dengan ospek, aku belajar besosisalisasi dengan teman-teman sejurusanku. Orang
yang pertamakali ku kenal bernama Anis dari Tegal, tapi dia tidak melanjutkan
di keperawatan karena di terima di STAN. Alhamdulillah pengumuman bidikmisipun
keluar, namaku tercantum sebagai salah satu penerima beasiswa tersebut. Ya
Allah, nikmatmana lagi yang aku dustakan. Lagi-lagi Eli bukan orang yang
pendiam, dimasa orienasi aku mencari peluang ruang gerak mana yang bisa kuambil
peran untuk belajar lebih. Aku mengenal berbagai macam organisasi kampus, unit
kegiatan mahasiswa, sampai kenal orang-orang hebat yang berprestasi. Dari
situlah mimpi-mimpiku mulai kurancang kembali, target demi target ku tuliskan
dalam buku. Aku rajin ikut seminar sana-sini, dari mulai seminar beasiswa,
bedah buku, sampai seminar riset. Ketertarikanku mulai mengerucut dalam riset
dan kelimuan.
Ketertarikanku dalam dunia
riset mengantarkanku untuk terjun ke organisasi yang berhubungan dengan riset.
Salah satunya bidang PEKA (Penelitian Penalaran dan Keilmuan) di HIMKA
(Himpunan Mahasiswa Keperawatan) dan KSIK (Kelompok Studi Islam Keperawatan).
Akupun mencari jalan yang bisa menjaga ruhiyah dan lingkunganku dengan ikut
organisasi keislaman yaitu KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama). Di tahun
pertama kuliah aku mengikuti tiga organisasi itu, banyak pengalaman yang
kudapat dan juga menguras waktuku, tapi tetap yang utama kegiatan akademik.
Tergabung di KSIK memotivasiku untuk terus berprestasi dan mencoba mengikuti
lomba-lomba. Disemester dua aku menocba ikut perlombaan bersama kakak tingkatku
di Litbang KSIK. Alhamdulillah ini pertamakalinya kau ikut lomba KTI, dan
ternyata lolos sampai babak finalis, yang
mengantarkanku terbang ke tanah Sumatra Utara. Berkunjung ke Universitas
Sumatra Utara untuk berlaga. Serta menyambangi Danau Toba. Saat
itu timku minta bantuan dan dibimbing oleh kakak tingkat dari SMAku yang
di Undip juga, Mas Ilham namanya. Beliau sudah melalang buana mengikuti
perlombaan KTI dan invention sampai keluar negeri. Bertemu dengan orang-orang
yang punya mimpi tinggi dan inspiratif membuatku semakin termotivasi.
Dua semester berlalu, aku melihat info pendaftaran beasiswa
Kader Surau yang diperuntukkan mahasiwa tidak mampu diutamakan bidikmisi
syaratnya kala itu. Akupun mencoba mendaftar, aku lolos tahap wawancara. Saat
akan wawancara ada seseorang yang berpesan padaku tentang tips trik wawancara
yang baik, alhamdulillah Allah membantu dari berbagai sudut yang tidak kita
duga pula.
Betapa rasa syukurku semakin bertambah ketika Allah membuat
namaku turut tercantum dalam pengumuman beasiswa Kader Surau YBM BRI. Bersama
orang-orang yang ku kenal memiliki jiwa pejuang, orang yang mengingatkanku
ketika futur, yakni keluarga Kader Surau Undip angkatan 3 merupakan sebuah
anugerah yang Allah berikan. Qodarullah bsia mengikuti sarasehan nasional di
Bogor dipertemukan dengan orang-orang hebat para penerima Kader Surau se
Indonesia yang sama-sama mempunyai mimpi tinggi, tentunya semangat untuk terus
belajar dan berbenah diri. Apalagi tinggal disrama yang notabenenya dibentuk
untuk menanamkan nilai-nilai islam, lingkungan yang saya cari sejak lama untuk
dimudahkan belajar tentang agama islam. Kehidupan asrama KS membuatku untuk
lebih mengenal diriku dan belajar berbagi bersama.
Kader Surau menjadi wadah
awalku untuk terus belajar dan berkembang. Disini aku dibimbing, diarahkan,
oleh pembina asrama KS Putri Mbak Fasyiah namanya, sosok inspiratif yang luar
biasa, sudah dikenal di Undip sebagai da'i. Aku dibimbing keranah bidang yang
aku sukai sesuai passionku. Aku mulai memperbaiki bacaan Al-qur’an, belajar
menghafal dan memurojaah hafalan. Program pemberdayaan masyarakat yang diusung
di beasiswa ini menjadikanku untuk semakin peka dengan lingkungan sekitar.
Disini aku dituntut aktif dan kontributif sebagai calon-calon pemimpin masa
depan. Ditahun kedua kuliah aku fokus disatu organisasi KSIK dan mencoba lagi
perlombaan KTI dan program kreativitas mahasiswa. Akupun mencoba perlombaan
diluar negeri dengan mengikuti exibition di Universitas Teknologi Mara, Pulau
Pinang Malaysia. Alhamdulillah timku mendapatkan silver medal.
“Sejatinya mimpi bagiku
adalah harapan-harapan baik setiap langkah kehidupan kita. Mimpi akan terus
bertambah seiring perjalanan waktu dalam kehidupan kita. Kita boleh bermimpi
tinggi, jangan takut bermimpi. Tuliskan, gemakan dalam setiap do'a, dan berikan
ikhtiar terbaik kita untuk mencapai target mimpi-mimpi kita. Tugas kita mengikhtiarkan, berdo'a dan tawakal, Allah yang menentukan. Mimpi boleh saja
berubah, tetapi tujuan akhir dari sebuah mimpi bagiku haruslah yang sejalan
dengan iman, islamku. Mimpiku adalah ingin menolong banyak orang, baik dengan
tanganku atau melalui karyaku, atau lewat apapun itu asalkan baik. Sejatinya
sebaik-baiknya insan, adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain"
Berbicara tentang kehidupan
pasti ada titik rendah kesulitan dan ada titik tinggi kemudahan, namun pasti
akan selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Maka dari itu jadilah
orang-orang yang pandai mengambil hikmah. Selalu ikhtiar, berdo’a, dan tawakal
selalu menjadi pengiring langkah kita. Allah Maha tahu akan prasangka hambanya.
Semoga kita selalu dimudahkan langkah dalam kebaikan. Semangat merawat
mimpi-mimpi kawanku semua.... diiringi ikhtiar terbaik kita.
Semarang,
21 Desember 2019
Di
Tengah malam kota Tembalang
Comments
Post a Comment